Masdibyo 54th Solo Exhibition “Uripku Mung Mampir Nglukis”
WTC 2 Lobby, 28 September – 30 October 2026
URIPKU MUNG MAMPIR NGLUKIS
Oleh : masdibyo
Dalam Pameran Tunggal ke-54
Aku ini "pemimpi" profesional yang suka menuangkan "mimpi-mimpi" itu keatas kanvas, dan jadilah karya-karya yang aku, yang rajin aku pamerkan dan puji syukur banyak yang mengoleksi, sehingga aku bisa melangkah dengan tegap hingga hari ini.
Aku bukan tipe orang penurut, apalagi "yes man". Bukan. Aku terlahir untuk merdeka, berjalan mengikuti suara hati, dan tidak mudah percaya pada saran atau pesan siapapun untuk langkahku sendiri, karena bagiku suara hati adalah "ayat" personal yang harus kujalankan. Apabila aku dulu menurut, mengikuti pesan - pesan orang diluar diriku, mungkin aku tidak ada diruang pameran kali ini.
Ketika pertama aku akan menggelar Pameran Tunggal, banyak sekali saran agar aku fikir ulang sebelum aku putuskan untuk Pameran Tunggal. Waktu itu tahun 1980-an, masih jarang pelukis menggelar pameran tunggal, karena yang namanya pameran tunggal itu seakan menjadi peristiwa sakral bagi seniman. Bahkan sempat ada pertanyaan: "Kamu akan menggelar Pameran Tunggal itu, apa sudah berani bertanggung jawab kepada masyarakat?“
Mendengar pertanyaan dari senior (orang yang usianya lebih tua dariku) itu, aku terdiam namun diamku memberontak: "Masyarakat yang mana minta pertanggung jawaban atas karya Seniman?”. Sikap ini kemudian berkonsekuensi banyak orang tidak suka terhadapku. Lantas banyak yang menjastis aku dengan sebutan kurang ajar, sombong, mekitik, bengal, dan sejenisnya, karena bagi mereka aku ini anak muda yang belum banyak tau namun tidak bisa dikasih tau dan rasa percaya dirinya kelewatan, melebihi rata-rata teman bahkan para senior.
Dari kenyataan yang harus kuterima atas keputusanku itu, tidak menyurutkan langkahku namun justru menjadikanku semakin bertekat lebih keras, untuk ingin banyak tau, lalu suara hatiku berucap: "Langkahku tidak bertumpu pada salah dan benar, tapi aku berpijak pada apa yang aku yakini". Ada pula senior yang mendukung langkahku dengan memberikan pujian atas karya yang akan aku pamerkan: "Nah, ini ni yang aku suka, sebaiknya style yang ini kamu pertahankan, ini sangat kamu, jadikan ini sebagai jati diri karyamu".
Saran baik inipun aku tentang: "Berarti aku tidak boleh berubah dan berkarya dengan melakukan pengulangan-pengulangan? Begitu? Waduh! Tidak banget lah. Aku akan terus melakukan eksperimen dan akan terus berproses melakukan perubahan selaras dengan perkembangan dan bertambahnya pengetahuan, agar menjadi "manusia tumbuh". Akupun terus berkarya, melangkah, mengikuti suara hati tanpa ada niat merugikan siapapun.
Ternyata Semesta menuntunku kearah yang seharusnya, dan dipertemukanlah aku dengan banyak tipe orang yang menjadikanku semakin paham "medan pertarungan", hingga hari ini aku terus berkarya dan terus pameran dengan sikap yang sama: "Aku tidak akan berhenti kecuali sang Maha menghentikanku, "uripku mung mampir nglukis”.

