• Jakarta Land

  • WTC | 1

  • WTC | 2

  • WTC | 3

  • WTC | 5

  • WTC | 6

  • WTC Jakarta

    A premium business hub where leading multinationals and embassies converge, WTC Jakarta offers world-class security and safety in a prime location, with seamless access to main roads and public transportation. Spanning over 210,000 m² of Grade A office space across five buildings—WTC 1, WTC 2, WTC 3, WTC 5, and WTC 6—it provides an ideal environment for businesses to thrive.

    Certified Green Mark Gold for sustainability, WTC Jakarta meets rigorous health and safety standards, holding ISO 45001, ISO 14001, ISO 41001, WELL, and top FLHSS (Fire, Life, Health, Safety and Security) audit ratings. With a range of facilities including retail, banking, wellness, and professional services, WTC Jakarta supports both business operations and tenant well-being.

    More than just a workplace, WTC Jakarta fosters a vibrant environment through Art at WTC, a dedicated initiative that brings curated artworks and exhibitions into its public spaces, enriching the everyday workplace experience with creativity and inspiration.

    Owned and managed by Jakarta Land, established in 1973, WTC Jakarta benefits from over a century of combined experience in property development and management. As a joint venture between PT Central Cipta Murdaya (CCM) and Hongkong Land, Jakarta Land brings together local expertise and global real estate knowledge to deliver Indonesia’s best business address. As part of the World Trade Centers Association (WTCA) global network, WTC Jakarta also connected to more than 300 World Trade Center businesses and organizations across nearly 100 countries and territories.
    ENQUIRIES
  • WTC 1

    One of Jakarta’s iconic commercial office buildings, WTC 1 reflects Bauhaus principles with its highly functional and efficient design

  • WTC 2

    Completed in 2012, WTC 2 represents Jakarta’s leading benchmark for world-class, high-tech, sustainable commercial office buildings.

  • WTC 3

    Completed in 2018, WTC 3 offers the latest in technology, facilities and retail options to exceed the demands of its tenants.

  • WTC 5

    Formerly known as Metropolitan I, WTC 5 is a landmark on Jalan Sudirman.

  • WTC 6

    Formerly known as Metropolitan II, WTC 6 is based on the same principles as WTC 5 and was also designed by Palmer & Turner.

  • Residential
    Conservation Architects London

    Conservation & Heritage Design

    Conservation Architects to transform your heritage property.

  • Residential
    Residential Architectural Design Services

    Create & Construct

    Whether a new build project, or transforming a home through renovation or refurbishment; we take the ordinary and elevate to the extraordinary.

  • Commercial
    Commercial Design and Build Company

    Create & Construct

    Whether a new build project, or transforming a home through renovation or refurbishment; we take the ordinary and elevate to the extraordinary.

  • About
    architecture and interior design studio

    Minale + Mann

    At Minale + Mann we believe that 'Design Matters'.

  • Contact
    Contact

    Contact

    Contact us and let us know about your project, or find out more about our award winning services.

back

Masdibyo 54th Solo Exhibition “Uripku Mung Mampir Nglukis”

WTC 2 Lobby, 28 September – 30 October 2026

URIPKU MUNG MAMPIR NGLUKIS

Oleh : masdibyo

Dalam Pameran Tunggal ke-54


Aku ini "pemimpi" profesional yang suka menuangkan "mimpi-mimpi" itu keatas kanvas, dan jadilah karya-karya yang aku, yang rajin aku pamerkan dan puji syukur banyak yang mengoleksi, sehingga aku bisa melangkah dengan tegap hingga hari ini.

Aku bukan tipe orang penurut, apalagi "yes man". Bukan. Aku terlahir untuk merdeka, berjalan mengikuti suara hati, dan tidak mudah percaya pada saran atau pesan siapapun untuk langkahku sendiri, karena bagiku suara hati adalah "ayat" personal yang harus kujalankan. Apabila aku dulu menurut, mengikuti pesan - pesan orang diluar diriku, mungkin aku tidak ada diruang pameran kali ini.

Ketika pertama aku akan menggelar Pameran Tunggal, banyak sekali saran agar aku fikir ulang sebelum aku putuskan untuk Pameran Tunggal. Waktu itu tahun 1980-an, masih jarang pelukis menggelar pameran tunggal, karena yang namanya pameran tunggal itu seakan menjadi peristiwa sakral bagi seniman. Bahkan sempat ada pertanyaan: "Kamu akan menggelar Pameran Tunggal itu, apa sudah berani bertanggung jawab kepada masyarakat?“

Mendengar pertanyaan dari senior (orang yang usianya lebih tua dariku) itu, aku terdiam namun diamku memberontak: "Masyarakat yang mana minta pertanggung jawaban atas karya Seniman?”. Sikap ini kemudian berkonsekuensi banyak orang tidak suka terhadapku. Lantas banyak yang menjastis aku dengan sebutan kurang ajar, sombong, mekitik, bengal, dan sejenisnya, karena bagi mereka aku ini anak muda yang belum banyak tau namun tidak bisa dikasih tau dan rasa percaya dirinya kelewatan, melebihi rata-rata teman bahkan para senior.

Dari kenyataan yang harus kuterima atas keputusanku itu, tidak menyurutkan langkahku namun justru menjadikanku semakin bertekat lebih keras, untuk ingin banyak tau, lalu suara hatiku berucap: "Langkahku tidak bertumpu pada salah dan benar, tapi aku berpijak pada apa yang aku yakini". Ada pula senior yang mendukung langkahku dengan memberikan pujian atas karya yang akan aku pamerkan: "Nah, ini ni yang aku suka, sebaiknya style yang ini kamu pertahankan, ini sangat kamu, jadikan ini sebagai jati diri karyamu".

Saran baik inipun aku tentang: "Berarti aku tidak boleh berubah dan berkarya dengan melakukan pengulangan-pengulangan? Begitu? Waduh! Tidak banget lah. Aku akan terus melakukan eksperimen dan akan terus berproses melakukan perubahan selaras dengan perkembangan dan bertambahnya pengetahuan, agar menjadi "manusia tumbuh". Akupun terus berkarya, melangkah, mengikuti suara hati tanpa ada niat merugikan siapapun.

Ternyata Semesta menuntunku kearah yang seharusnya, dan dipertemukanlah aku dengan banyak tipe orang yang menjadikanku semakin paham "medan pertarungan", hingga hari ini aku terus berkarya dan terus pameran dengan sikap yang sama: "Aku tidak akan berhenti kecuali sang Maha menghentikanku, "uripku mung mampir nglukis”.

Copyright 2026. Jakarta Land. All Rights Reserved